www.ilmu-komunikasi.ga | Generasi Akademisi

Hasil gambar untuk ILmu-komunikasi
Apakah Anda salah satu yang berminat ingin masuk jurusan komunikasi? Atau mungkin Anda belum mengetahui ingin mengambil jurusan apa saat kuliah nanti? Mungkin Anda selalu bertanya-tanya apa saja yang akan dipelajari selama kuliah berlangsung dalam ilmu komunikasi.
Meskipun jurusan Komunikasi semakin banyak peminat di tiap taunnya di era saat ini, pengetahuan tentang apa sebenarnya tujuan mempelajari Komunikasi sampai prospek lulusannya seperti apa banyak orang yang mempertanyakannya.
Maka dari itu untuk membantu Anda semua, Sepulsa akan membahas tentang berbagai hal yang penting untuk Anda ketahui sebelum memutuskan untuk menghabiskan empat tahun hidup Anda untuk kuliah di jurusan komunikasi.

Jurusan Komunikasi, Yang Dipelajari Bukan Hanya Cara Mengobrol Saja

Pada awal memutuskan untuk belajar Ilmu Komunikasi, anak-anak komunikasi juga engga benar-benar paham mengapa mereka harus mempelajari hal yang sudah biasa dilakukan oleh semua manusia sehari-sehari. Setiap harinya manusia menulis dan mengobrol.
Sebagai makhluk sosial, semua orang bisa melakukan hal itu. Lalu mengapa kita harus mempelajarinya lagi ?
Betul, memang semua manusia bisa dan terbiasa berkomunikasi. Tapi, belum tentu juga semua dari mereka paham caranya karena komunikasi itu unik, seperti dia bisa menjadi penyebab sekaligus solusi dari sebuah konflik. Kalau memang benar komunikasi itu hal yang sepele, mengapa kita bertengkar dengan orang hanya karena miskomunikasi?
Dalam jurusan Ilmu Komunikasi, Anda akan belajar lebih jauh mengenai aspek-aspek komunikasi, baik secara teori dan praktik. Bisa juga dibilang kalau Ilmu Komunikasi itu adalah perpaduan antara ilmu dan seni dalam mengolah pesan. Dengan mempelajari ilmu ini, Anda akan belajar memahami apa saja yang terjadi selama komunikasi berlangsung.
Seperti siapa saja yang terlibat, prosesnya bagaimana, mengapa bisa terjadi, dan apa akibat yang ditimbulkan. Dengan pertimbangan tersebut, Anda diharapkan bisa membuat pesan dengan cara efektif, bisa dimaknai dan dipahami dengan baik oleh orang lain.
Anda bisa mendapatkan feedback yang baik jika mampu memberi pesan yang efektif ke setiap orang. Anda juga akan belajar mengenai bentuk-bentuk komunikasi, yaitu Komunikasi Intrapersonal, Interpersonal, Kelompok, dan Massa. Meski sederhana, proses berkomunikasi itu sangat kompleks, maka dari itu komunikasi perlu dipelajari.

Jurusan Komunikasi Terkenal Dengan Tugas Yang Seru

Di jurusan Komunikasi Anda nggak cuma belajar teori aja. Anda diberi kesempatan untuk mempraktikannya. Praktikum-praktikum yang diajarkan juga tidak kalah seru dan lingkupnya pun luas, seperti manajemen dan produksi televisi, radio, dan media cetak.
Anda jadi akan mengetahui bagaimana proses produksi siaran televisi, radio, sampai media cetak. Anda jadi bisa mengetahui bagaimana proses produksi siaran televisi. Anda akan belajar cara jadi kameramen, produser, reporter, team kreatif, floor director, dan juga news anchor atau presenter.
Ini termasuk proses produksi siaran televisi, proses produksi penyiaran radio dan juga media-media lainnya.
Ada pula mata kuliah Fotografi, dimana Anda akan belajar tentang teknik cara menghasilkan gambar yang gemilang. Skill fotografi ini bisa berguna untuk banyak hal, seperti pada Anda nanti bekerja sebagai wartawan. Jika Anda ingin kerja di dunia periklanan, kemampuan fotografi Anda bisa berguna untuk memotret produk periklanan.
Tugas kuliahnya terbilang seru, karena ngga melulu membuat paper, makalah atau presentasi. Biasanya anak komunikasi dapat tugas untuk membuat film, iklan, video klip, dan bahkan event kampus yang bisa dibilang lumayan cukup besar.

Ilmu Komunikasi Yang Akan Dipelajari

Pada saat kuliah tahun pertama, Anda akan belajar mengenai ilmu-ilmu dasar sosial dan komunikasi. Mata kuliah yang diajarkan pun masih mata kuliah umum, seperti Pengantar Ilmu Komunikasi, Komunikasi Massa, Sosiologi Komunikasi, dan Psikologi Komunikasi.
Pada saat tahun ke 3 kuliah, Anda bisa memilih konsentrasi mata kuliah sesuai dengan minat Anda. Penjurusan atau minat konsentrasi ini berbeda-beda pembagiannya, tergantung yang disediakan di Universitas Anda.
Pada jenjang S1, fakultas atau jurusan Ilmu Komunikasi pada umumnya punya tiga jurusan peminatan: Jurnalistik, Public Relations, dan Manajemen Komunikasi/Komunikasi Media. Tetapi engga semua universitas di Indonesia menyediakan jurusan Manajemen Komunikasi/Komunikasi Media. Kebanyakan hanya menyediakan jurusan peminatan Jurnalistik dan Public Relations saja.

Kesempatan Berkarir Yang Besar

Perkembangan media di Indonesia sangat pesat, peluang karir bagi lulusan Komunikasi saat ini bisa dibilang terbuka lebar. Lapangan kerja yang paling besar peluangnya bagi anak-anak Komunikasi adalah media cetak, elektronik, maupun online. Kalau Anda minat bekerja di TV, kamu bisa melamar hampir semua posisi pekerjaan yang ada di media elektronik tersebut.
Bila mengambil jurusan manajemen komunikasi, Anda bisa melamar di bagian account executive atau tim kreatif. Belum lagi jika Anda mempertimbangkan untuk bekerja di media lain seperti media online, radio, koran, dan majalah.
Bila tidak ingin bekerja di media Anda bisa memilih juga bekerja di instansi pemerintahan, hampir setiap instansi pemerintahan membutuhkan tenaga kerja dengan latar belakang ilmu Komunikasi, seperti Public Relations. Anda juga bisa menjadi seorang copy writer bila senang menulis.

Universitas Terbaik Untuk Jurusan Ilmu Komunikasi

Jurusan Komunikasi yang terbaik di Indonesia adalah di Universitas Airlangga, Surabaya. Unair adalah salah satu kampus favorit di Jawa Timur, kampus ini sudah tidak diragukan lagi soal kualitas pendidikan yang ditawarkannya. Untuk jurusan Ilmu Komunikasi sendiri Unair sudah memperoleh akreditasi A. Anda yang ingin kuliah di jurusan komunikasi sangat disarankan untuk memilih kampus ini sebagai tujuan studi Anda.
Oleh Ali Arrida

Pengertian semiotika secara terminologis adalah ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Menurut Eco, semiotik sebagai “ilmu tanda” (sign) dan segala yang berhubungan dengannya cara berfungsinya, hubungannya dengan kata-kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.

Seluruh aktifitas manusia dalam keseharian selalu diliputi berbagai kejadian-kejadian yang secara langsung atau tidak langsung, disadari atau tak-sadar, memiliki potensi makna yang terkadang luas nilainya jika dipandang dari sudut-sudut yang dapat mengembangkan suatu objek pada kaitan-kaitan yang mengindikasikan suatu pesan atau tanda tertentu. Jika diartikan melalui suatu penjelasan maka akan dapat diterima oleh orang lain yang menyepakati.

Semiotika, yang biasanya didefinisikan sebagai pengkajian tanda-tanda (the study of signs), pada dasarnya merupakan sebuah studi atas kode-kode, yaitu sistem apapun yang memungkinkan kita memandang entitas-entitas tertentu sebagai tanda-tanda atau sebagai sesuatu yang bermakna ( Scholes, 1982: ix dalam Kris Budiman, 2011: 3)

Lebih spesifik lagi jika sebuah studi atas kode-kode tertentu memiliki kaitan dengan kehidupan kita, bahkan sangat fundamental jika ada kesalahan artikulasi atas kode-kode tersebut. Pemicu awal terciptanya suatu hukum bisa berawal dari kode-kode sebuah tanda yang telah disepakati dan menjadi kebudayaan menyeluruh. Kita dapat melihat tentang bagaimana tanda-tanda tertentu berbeda makna dari orang-orang yang terbagi dalam berbagai aspek seperti, geografis, demografis, suku dan budaya. Sehingga bagi Ferdinand de Saussure (Kris Budiman, 2011: 3) menuturkan bahwa semiologi adalah sebuah ilmu umum tentang tanda, “suatu ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di dalam masyarakat”. Tanda-tanda dalam masyarakat yang telah disepakati sebenarnya hasil dari pemikiran Logika seperti yang di ungkapkan oleh Charles S. Pierce (Kris Budiman 2011: 3) bahwa semiotika tidak lain daripada sebuah nama lain bagi logika, yakni “doktrin formal tentang tanda-tanda”.

Penggunaan kata doktrin disini adalah wujud dari kesepakatan generasi ke generasi contohnya tentang tanda alam, “jika mendung maka itu tanda akan segera turun hujan”. Walaupun terkadang hujan tanpa mendung-pun sering terjadi, dan mendung tanpa hujan pun ada. Namun, ada makna yang terkandung di dalam tentang artikulasi bagi sebagian orang atau kelompok tentang tanda “mendung”. Dalam ilmu fisika kita mengetahui sebab apa sehingga turun hujan akan mengartikan sebagai proses menguapnya kandungan air yang ditampung sehingga langit mendung dan menurunkan hujan. Akan tetapi, bagi kelompok lain tanpa melakukan sebuah analisis akademis seperti itu pun mengisyaratkan bahwa langit mendung pertanda akan turun hujan. Tanda langit mendung menjadi acuan yang disepakati baik secara doktrinisasi ataupun secara historis masyarakat yang mengalami itu berkali-kali dan dapat mengartikan “hujan akan segera turun”. (bahasa alam)

Sedangkan menurut John A. Walker semiotika adalah “ilmu yang mengkaji tentang tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Definisi tersebut menjelaskan relasi yang tidak dapat dipisahkan antara sistem tanda dan penerapannya di dalam masyarakat. Oleh karena tanda itu selalu ditempa di dalam kehidupan sosial dan budaya, maka jelas keberadaan semiotika sangat sentral di dalam cultural studies. Tanda tidak berada di ruang kosong, tetapi hanya bisa eksis bila ada komunitas bahasa yang menggunakannya. Budaya, dalam hal ini, dapat dilihat sebagai bangunan yang dibangun oleh kombinasi tanda-tanda, berdasarkan aturan tertentu (code), untuk menghasilkan makna.

Tanda di dalam fenomena kebudayaan mempunyai cakupan yang sangat luas, di mana selama unsur-unsur kebudayaan mengandung di dalam dirinya makna tertentu, maka ia adalah sebuah tanda, dan dapat menjadi objek kajian semiotik. Apakah itu pola tingkah laku seseorang, pola pergaulan, penggunaan tubuh, pengorganisasian ruang, pengaturan makanan, cara berpakaian, pola berbelanja, hasil ekspresi seni, cara berkendaraan, bentuk permainan dan objek-objek produksi, semuanya dianggap sebagai tanda dan produk bahasa ( John A. Walker 2010: xxii ).

Menurut kami, lebih plural tentang arti tanda dari John A. Walker, karena mengisyaratkan tentang respon dari indra seseorang yang ditimpa stimulus apapun bisa berarti sebuah tanda. Bahkan hal terkecilpun memiliki potensi besar berupa makna. Namun, keragaman makna di sini berlaku ketika adanya sebuah komunitas bahasa yang menyetujui tentang berbagai tanda yang disepakati dan mempunyai legitimasi aturan-aturan tentang pemaknaan tersebut. Begitu juga sebaliknya ada kekuatan personal orang yang mampu memaknai berbagai tanda, akan tetapi orang lain tidak mampu bahkan tidak menyetujui akan makna dari perseorangan tersebut, itu tidak berlaku dalam sebuah analisa dan tidak bisa diwujudkan dalam kehidupan luas.

Maka dari itu sebuah tanda tertentu yang dapat memberikan makna harus diteliti dan dibuktikan dalam sebuah praktek meskipun artikulasi itu tidak nampak atau tidak riil wujudnya. Dari interpreter ke interpreter selanjutnya harus jelas dalam memaknai, sehingga dengan sendirinya makna-makna yang akan membudaya secara automatic menyatu dalam sebuah wadah budaya dan disepakati. Contohnya adalah kultur barat yang dahulu merayap menggunduli budaya luhur dan saat ini menggunduli dirinya sendiri dan idealisme budaya Indonesia digantikan dengan budaya Kapitalisme. Tanpa terasa luka itu bertambah parah menggerogoti kesejahteraan rakyat hidup dengan layak. Ini semua berawal dari tanda yang dimaknai dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari yang pada akhirnya menjadi budaya baru yang memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Indonesia yang disebut modern. Cara-cara berpakaian, konsumerisme, cara berpikir liberal tak bermoral, dan lain sebagainya bisa dinamakan tanda-tanda budaya barat yang dimaknai modern oleh masyarakat Indonesia.

Karena pengertian semiotika adalah sistem tanda yang berelasi dalam pemaknaan, maka yang pertama akan kami bahas adalah karakteristik tanda ( Arbitrer ). Karakteristik Tanda ( Arbitrer )

Bahasa, dalam perspektif semiotika ( 2011: 66 ), hanyalah salah satu sistem tanda-tanda (system of signs). Dalam wujudnya sebagai suatu sistem, pertama-tama, bahasa adalah sebuah institusi sosial otonom, yang keberadaannya terlepas dari individu-individu pemakainya. Bahasa merupakan seperangkat konvensi sistematis, produk dari kontrak kolektif, yang bersifat memaksa. Saussere ( dalam Kris Budiman 2011: 66 ) menyebutnya sebagai lengue. Kedua, bahasa tersusun dari tanda-tanda, yakni entitas fisik, yang di dalam bahasa lisan berupa citra-bunyi (sound image), yang berelasi dengan konsep tertentu. Selanjutnya, Saussere menamakan entitas material-sensoris ini sebagai penanda (signifier atau signifiant) dan konsep yang berkait dengannya sebagai petanda (signified atau signifie). Masih menurut Saussure, tanda-tanda, khususnya tanda-tanda kebahasaan, setidak-tidaknya memiliki dua buah karakteristik primordial, yakni bersifat linear dan arbitrer.

Karakteristik pertama, linearitas penanda ( linear nature of the signifier ), berkaitan dengan dimensi kewaktuannya. Penanda-penanda kebahasaan harus diproduksi secara beruntun, satu demi satu, tidak mungkin secara sekaligus atau simultan. Artinya, penanda tersebut bersifat linier karena "pendengaran penanda memiliki perintah mereka hanya dimensi waktu." Ini "merupakan sejengkal, dan rentang yang dapat diukur dalam dimensi tunggal" - yaitu waktu. Saussure says that linguistic signs are by nature linear, because they represent a span in a single dimension. Auditory signifiers are linear, because they succeed each other or form a chain. Visual signifiers, in contrast, may be grouped simultaneously in several dimensions (tanda-tanda linguistik secara alami linear, karena mereka mewakili rentang dalam dimensi tunggal. Penanda pendengaran adalah linear, karena mereka berhasil satu sama lain atau membentuk rantai. Penanda visual, sebaliknya, dapat dikelompokkan secara bersamaan dalam beberapa dimensi).

Karakteristik kedua, kearbitreran tanda (the arbitrary nature of the signs), bersangkutan dengan relasi di antara penanda dan petanda yang “semena-mena” atau “tanpa alasan”—tak bermotivasi (unmotivated). Relasi di antara penanda dan petanda adalah semata-mata berdasarkan konvensi (Kris Budiman 2011, 66). Selanjutnya Seassure di kesempatan yang lain mengatakan bahwa bahasa lisan mencakup komunikasi konsep melalui suara-gambar dari pembicara ke pendengar. Bahasa adalah produk komunikasi pembicara dari tanda-tanda untuk pendengar. Tanda linguistik adalah kombinasi dari konsep dan suara-gambar. Konsepnya adalah apa yang ditandakan, dan suara-gambar penanda. Kombinasi signifier dan signified adalah sewenang-wenang, yaitu, suara apapun citra dibayangkan dapat digunakan untuk menandakan sebuah konsep tertentu. Namun, terkadang ada perubahan-perubahan dalam hubungan signifier dan signified dan perubahan tanda-tanda linguistik berasal dari perubahan kegiatan sosial. Tanda-tanda arbitrer disebut secara khusus oleh Pierce, sebagai simbol (symbol) (Kris Budiman 2011: 66). Oleh karena itu, dalam terminologi Pierce, bahasa dapat dikatakan juga sebagai sistem simbol lantaran tanda-tanda yang membentuknya bersifat arbitrer dan konvensional. Misalnya, Hewan yang menggonggong dikatakan anjing oleh orang Indonesia dan dog oleh Inggris. Masing-masing bangsa itu sungguh “semena-mena” dalam menamakan hewan yang menggonggong tadi. Di dalam tatanan budaya itu ‘bermacam area kehidupan sosial terlihat dipetakan ke dalam wilayah diskursif, wilayah itu secara hierarkis terorganisasi menjadi pemaknaan-pemaknaan yang dominan atau yang disukai’. Karena tatanan budaya itu tidak tunggal dan bukannya tidak dipersoalkan, maka pemaknaan yang disukai menjadi bisa dijamin. Tapi karena tatanan itu dominan, maka tatanan itu pastilah mendukung suatu keseimbangan probabilitas, sebab tatanan itu menguntungkan bagi beberapa pembacaan-pembacaan yang bersifat pribadi varian. Seperti contoh di atas jika kata anjing disepakati oleh masyarakat internasional untuk menamakan hewan menggonggong, maka akan kesulitan bagi mereka yang sulit mengucapkan kata anjing. Jadi ada kesewenang-wenangan dalam memaknai dan menamai tanda gonggong itu dimiliki oleh anjing bagi orang Indonesia, begitu juga di seluruh dunia yang tidak sama menamai hewan menggonggong. Tetapi “perspektif selektif” hampir tidak pernah secara seselektif, seacak, dan sepribadi apa yang dikatakan oleh konsepnya. Namun, dalam masalah peristilahan ini pula kemudian timbul kesengkarutan karena Saussure dan Pierce ternyata menggunakan satu istilah yang sama untuk menunjuk kepada konsep yang sama sekali bertolak-belakang. Menurut terminologi Pierce, simbol adalah tanda arbitrer, sementara Saussure sebaliknya, dan mengatakan bahwa simbol adalah tanda-tanda yang tidak sepenuhnya arbitrer. Kerancuan ini dapat menjadi pelajaran bagi siapa saja yang belajar semiotika agar senantiasa waspada dan tidak sembrono dengan terminologi dan konsep-konsep karena nyaris setiap pemikir dan “selebriti” semiotika menggunakan istilah yang sama atau hampir sama, namun pengertiannya bisa berbeda sama sekali. Akan tetapi terlepas dari kerancuan konseptual tersebut, boleh dikatakan bahwa hampir sepanjang riwayatnya linguistik dan semiotika terlampau menekankan pada konvensionalitas atau kearbitreran tanda sehingga kerap mengabaikan karakteristik tanda yang sebaliknya—seolah-olah bahasa tidak mungkin berkarakteristik ikonitas menurut Saussure yang menurut Pierce menaruh perhatiannya terhadap masalah ikonitas.

Begitu peliknya masalah yang dihadapi dalam artikulasi serat memaknai tanda-tanda menurut Saussure dan Pierce. Meskipun keduanya hidup bersamaan di zamannya, namun mereka tidak pernah saling kenal dan bertemu. Akan tetapi para murid-muridnya mencoba merangkum apa yang dimaksudkan oleh Saussure dengan linguistik dan Pierce mengatakan dengan nama lain dari semiotika adalah Logika atau permainan logika. Perkembangan yang semakin menunjukkan eksitensi tentang semiotika berkaitan dengan pemaknaan tanda. Kami akan mencoba menjelaskan apa yang dimaksud dengan ikon dan ikonitas yang merupakan tanda-tanda non-atbitrer menurut Pierce.

Ikon dan Ikonisitas Bagi Pierce, ikon termasuk dalam tipologi tanda pada trikotomi kedua. Ikon merupakan sebutan bagi tanda yang non-arbitrer (bermotivasi). Menurut Pierce, Ikon adalah hubungan antara tanda dan objeknya atau acuan yang bersifat kemiripan (Sobur, 2004:41). Dia menyatakan bahwa ikon adalah tanda yang memiliki kemiripan/similaritas dengan objeknya (Budiman, 2005:45). Ikon, jika ia berupa hubungan kemiripan (Nurgiyantoro, 1995:45). Ikon merupakan tanda yang didasarkan oleh adanya similaritas (similarity) atau “keserupaan” (resemblance) di antara kedua kolerat tersebut (Budiman 2011: 69). Jenis tanda yang didasari resemblance itu adalah tanda ikonis dan gejalanya dapat disebut sebagai ikonisitas. Ikonisitas merupakan salah satu gejala yang tidak kurang penting di dalam semiotika. Padahal, berbagai tanda ikonis berserakan di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari, misalnya: gambar wajah Dian Sastro tersenyum manja dengan bibir merah basah merekah sedikit terbuka dalam bungkus sabun, wajah Hitler pada kaos kita, atau gambar group band Peterpan dalam poster (ketiganya adalah ikon Images). Betapa terpolusinya kehidupan kita dengan tanda ikonis, tetapi kadang tidak terpikirkan. Di dalam bahasa, kita menemukan kata onomatope sebagai tanda ikonis, misalnya kata ku ku ru yuk yang mengacu pada objek suara yang diacunya, yaitu Ayam Jago. Selain itu, kata dangdut yang juga mengacu pada objek suara yang diacunya. suatu tanda, atau representamen, merupakan sesuatu yang menggantikan sesuatu bagi seseorang dalam beberapa hal atau kapasitas. Ia tertuju kepada seseorang, artinya di dalam benak orang itu tercipta suatu tanda lain yang ekuivalen, atau mungkin suatu tanda yang lebih terkembang. Tanda yang tercipta itu saya sebut sebagai interpretan dari tanda yang pertama. Tanda yang menggantikan sesuatu, yaitu objeknya, tidak dalam segala hal, melainkan dalam rujukannya pada sejumput gagasan, yang kadang saya sebut sebagai latar dari representamen (Budiman, 2011: 73). Pierce, menyusun tipe ikon secara triparit. Yang mana karakteritik arbitrer dan konvesional itu hanya terdapat pada salah satu sub-tipe tanda yang dinamakannya sebagai simbol  (Budiman, 2011: 69). Tipe-tipe ikon itu misalnya, ikon image, ikon diagram, dan ikon metaforis. Ikon metafora (metaphor) merupakan suatu meta-tanda (metasign) yang ikonisitasnya berdasarkan pada kemiripan atau similaritas di antara objek-objek dari dua tanda simbolis. Biasanya berupa hubungan similaritas relasi abstrak seperti kemiripan sifat. Contoh ikon metafora : Metafora “Kaki Gunung” dapat dihasilkan dengan mempersamakan objek yang berupa gunung dengan objek lain yang berupa tubuh manusia (atau hewan) yang memilih kaki. Kemiripannya, sama-sama berada di bawah dan berfungsi untuk menopang tubuh atau gunung.

CONTOH JUDUL SKRIPSI ILMU KOMUNIKASI

Kami persembahkan kepada para mahasiswa yang tengah mempersiapkan penyusunan skripsi atau masih menemukan kendala dalam menentukan judul skripsi yang tepat untuk digarap. Selain dapat menjadi tambahan koleksi contoh judul skripsi ilmu komunikasi, keseluruhan skripsi tersebut dapat dimiliki file lengkapnya dengan mengikuti prosedur pemesanan di bagian akhir artikel ini.

Kami telah menyeleksi hingga terpilih beberapa Judul Skripsi Lengkap berkaitan dengan Ilmu Komunikasi dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia.  judul-judulnya sebagai berikut:

  1. AKTIVITAS PUBLIC RELATIONS DALAM UPAYA PENCITRAAN KAFE LIQUID NEXT GENERATION (Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Aktivitas Public Relations Dalam Upaya Pencitraan Kafe Liquid Next Generation Yogyakarta)
  2. PENGARUH TAYANGAN OPERA VAN JAVA TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU KEKERASAN DI SMA TRIGUNA UTAMA CIPUTAT
  3. ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN WARIA PADA MAJALAH WARIA @INFORMATION GROUP RUBRIK UNDER COVER.
  4. Film televisi dan kesenjangan kepuasan (Studi tentang kesenjangan kepuasaan menyaksikan Film televisi di SCTV dan sinema siang di RCTI di kalangan Mahasiswa ilmu komunikasi angkatan 2007- 2009 melealui pendekatan Uses and Grafiticaton).
  5. INTENSITAS KOMUNIKASI KELUARGA DAN PRESTASI BELAJAR ANAK ( Studi Korelasi Antara Intensi tas Komunikasi Keluarga Dengan Prestasi Belajar Pelajar Kelas 5 Sekolah Dasar Djama’atul Ichwan Kota Surakarta)
  6. KONSTRUKSI REALITAS DALAM BERITA POLITIK DI MEDIA CETAK LOKAL (Studi Analisis Wacana terhadap Teks Berita Seputar Kampanye SBY-Boediono pada Pilpres 2009 di Harian Umum Solopos)
  7. POLA HUBUNGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTARA ORANG TUA DENGAN ANAK TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI PADA ANAK (STUDI PADA SDN 01 PAGI CIPULIR KEBAYORAN LAMA JAKARTA)
  8. KEGIATAN PRESS RELEASE BAGIAN PEMASARAN PELAYANAN HUMAS RSUP NASIONAL Dr. CIPTO MANGUNKUSUMO SEBAGAI PROSES PENGORGANISASIAN INFORMASI
  9. ANALISIS ISI PESAN KREATIF IKLAN MEDIA CETAK PERAIH MEDALI EMAS PENGHARGAAN BULANAN DALAM FORUM HTTP://WWW. ADSOFTHEWORLD.COM PERIODE OKTOBER HINGGA MARET
  10. KAMPANYE PUBLIC RELATIONS DALAM MEMBENTUK SIKAP KHALAYAK (Studi pada Kampanye Stop the Trafficking of Children and Young People yang diselenggarakan oleh The Body Shop Indonesia)
  11. STRATEGI PEMENANGAN PASANGAN JOKO WIDODO - JUSUF KALLA PADA PILPRES 2014 (Studi Atas Marketing Politik Melalui Mobil Aspirasi)
  12. Pengaruh Teknologi Komunikasi Terhadap Kinerja Pegawai Kantor Pos Serang
  13. KOMUNIKASI PEMASARAN PARTAI POLITIK (Penelitian Deskriptif Kualitatif Tentang Komunikasi Pemasaran Politik Partai PDI Perjuangan, Partai Golongan Karya dan Partai Demokrat Pada Pemilu Legislatif 2009 di Kota Surakarta)
  14. KAMPANYE PUBLIC RELATIONS PT. PLN (PERSERO) APJ BANTEN UTARA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN MASYARAKAT AKAN PENGGUNAAN ENERGI LISTRIK
  15. STRATEGI IMAGE RESTORATION PASCA KEBIJAKAN WAR ON TERRORISM (Studi Kasus Penggunaan Program @america oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia)
  16. HUMAS DALAM MEMBANGUN CITRA PERUSAHAAN (Studi Deskriptif Kualitatif Peran Humas Kantor Pos Besar Surakarta dalam Membangun Citra Perusahaan)
  17. BENTUK KEKERASAN DALAM YANAGAN SINETRON (Analisis Pada Tayangan Sinetron Bukan Islam KTP).
  18. ANALISIS FENOMENOLOGI PADA PROGRAM “MARIO TEGUH GOLDEN WAYS” DI METRO TV
  19. Faktor yang mempengaruhi ketidakpastian di dalam melakukan komunikasi antar budaya. Studi diskriptif kualitatis yang dilakukan mahasiswa Thailand, Universitas Negeri Semarang.
  20. Analisis terhadap prinsip-prinsip perencanaan pesan persuasif kepada partisipasi community development. Studi deskriptif kualitatif persuader untuk kegiatan yang dilakukan anggota sanggar batik jenggolo di Yogyakarta.
  21. Pemberitaan mengenai gerakan ISIS atau Islamic State of Iraq and Syria yang ada di media online. Analisis wawancara secara kritis terhadap gerakan ISIS yang ada pada Kompas.com periode tanggal 1 – 7 Maret.
  22. Faktor-faktor yang mempengaruhi unggahan foto alam Yogyakarta pada media sosial (instagram) dan hubungannya dengan perilaku pengunjung.
  23. Analisis terhadap pendapat yang setuju dan bertentangan dengan penerapan hukuman mati di Indonesia. Studi deskriptif kualitatif yang dilakukan oleh mahasiswa jurusan ilmu komunikasi Universitas Negeri Semarang.
  24. Analisis terhadap pendapat yang setuju dan bertentangan mengenai penerapan suntik mati di Indonesia. Studi deskriptif kualitatif yang dilakukan oleh mahasiswa jurusan ilmu komunikasi Universitas Negeri Semarang.
  25. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberpihakan media massa di dalam memberikan perseteruan antara DPRD DKI dan Gubernur DKI Jakarta yang dimuat di dalam surat kabar Kompas.
  26. Faktor yang mempengaruhi keberpihakan media online di dalam memberitakan perseteruan mengenai Badan Eksekutif dan Badan Legislatif.
  27. Persepsi masyarakat mengenai iklan BKKBN versi pernikahan usia dini yang dimuat di televisi. Studi deskriptif kualitatif yang dilakukan mahasiswa jurusan ilmu komunikasi. Universitas Negeri Bandung.
  28. Analisis terhadap cara media sosial memojokkan salah satu kandidat presiden agar masyarkat terpengaruh untuk tidak memilihnya.
  29. Analisis Deskriptif Komunikasi Interpersonal Dalam Kegiatan Belajar Mengajar Antara Guru dan Murid PAUD Anak Prima Pada Proses Pembentukan Karakter Anak (Studi deskripsi komunikasi interpersonal antara guru dan murid yang diterapkan PAUD AnakPrima dalam rangka mencapai tujuan pendidikan bagi balita)
  30. HUMAS SEBAGAI PENGELOLA OPINI PUBLIK (Studi Deskriptif Pengelolaan Isu Etnis Tionghoa Pasca Penertiban Lahan di Bantaran Sungai Cisadane oleh Humas Pemerintah Kota Tangerang
  31. ANALISIS FOTO JURNALISTIK MAJALAH TRAVEL XPOSE (Studi Analisis Semiotik Mengenai Foto Wisata Indonesia Dalam Rubrik Domestik Majalah Travel Xpose)
  32. APLIKASI ETIKA MORAL DALAM PROGRAM BERITA KABAR PETANG TV ONE (Studi Aplikasi Etika Moral Dengan Pendekatan Analisis Wacana Dalam Program Berita Kabar Petang TV ONE Edisi 8 September 2009)
  33. PENGARUH TERPAAN MEDIA TERHADAP TINGKAT KECEMASAN WARGA KELURAHAN BANJAR AGUNG KECAMATAN CIPOCOK KOTA SERANG (Studi Kasus Pemberitaan Ledakan Tabung Gas LPG 3 Kg di Harian Radar Banten)
  34. RESPON MAHASISWA TERHADAP SENSITIFITAS GENDER PADA MATERI KULIAH DI JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
  35. PENGARUH MENGUNJUNGI TEMPAT HIBURAN MALAM TERHADAP GAYA HIDUP REMAJA (Studi Kasus Mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat)
  36. KOMUNIKASI ANTARA ORANG TUA DENGAN ANAK DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERILAKU ANAK (Studi Kasus Di SMP Islam Al-Azhar 2 Pejaten Jakarta Selatan)
  37. PENDAPAT MASYARAKAT TENTANG PEMBERITAAN KASUS MUTILASI DAN PEMBUNUHAN BERANTAI VERY IDAM HENYANSAH (Studi Deskriptif terhadap Mahasiswa FISIP Universitas Sumatera Utara Tentang Pemberitaan Kasus Mutilasi dan Pembunuhan Berantai Very Idam Henyansah Di Seputar Indonesia RCTI )
  38. Faktor yang mempengaruhi pemilihan artis endorse di dalam menarik minat masyarakat untuk membeli produk yang ditawarkan.
  39. Analisis terhadap kekerasan agama yang dilakukan melalui media sosial. Studi deskriptif kualitatif oleh mahasiswa jurusan ilmu komunikasi. Universitas Islam Negeri Jember.
  40. Faktor yang menyebabkan runtuhnya media-media islam di era globalisasi. Studi deskriptif kualitatif oleh mahasiswa jurusan ilmu komunikasi. Universitas Islam Negeri Surabaya.
  41. Faktor yang menyebabkan runtuhnya media massa islam alternatif di era globalisasi. Studi deskriptif kualitatif oleh mahasiswa jurusan ilmu komunikasi. Universitas Islam Negeri Surabaya.
  42. Analisis mengenai kelebihan media sosial Facebook di dalam melakukan transaksi jual beli online.
  43. Analisis mengenai kelebihan media sosial Instagram di dalam melakukan transaksi jual beli online. Studi deskriptif kualitatif oleh mahasiswa jurusan ilmu komunikasi. Universitas Islam Negeri Semarang.
  44. Hubungan antara strategi retorika di dalam mengajarkan tentang ilmu komunikasi kepada mahasiswa semester 3. Studi deskriptif kualitatif oleh mahasiswa jurusan ilmu kommunikasi. Universitas Sebelas Maret.
  45. Analisis mengenai bahasa isyarat dan hubungannya dengan keefektifan suatu komunikasi non verbal dan juga non vokal yang ada pada beberapa TV Nasional.
  46. Faktor yang mempengaruhi minat masyarat di dalam menerapkan pola hidup sehat melalui iklan layanan televisi.
  47. Faktor yang mempengaruhi minat masyarat di dalam menerapkan pola hidup sehat melalui iklan layanan di Instagram.
  48. Faktor-faktor yang mempengaruhi aplikasi whatsapp dengan perilaku tertutup mahasiswa. Survey yang dilakukan kepada mahasiswa jurusan ilmu komunikasi. Universitas Negeri Semarang.
  49. Analisis mengenai penggunaan media sosial Facebook di dalam bauran komunikasi pemasaran. Studi deskriptif kualitas yang dilakukan oleh mahasiswa jurusan ilmu komunikasi. Universitas Negeri Surabaya.
  50. Strategi yang berkaitan tentang hubungan masyarakat dengan keterbukaan informasi publik. Studi deskriptif kualitatif mahasiswa jurusan ilmu komunikasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
  51. Analisis mengenai komunikasi verbal dan juga non verbal oleh mahasiswa difabel netra UIN Sunan Gunung Jati Malang melalui aplikasi Facebook.
  52. ANALISIS PRODUKSI PROGRAM “JEJAK ISLAM “ DI TV ONE JAKARTA
  53. HUBUNGAN ANTARA PERILAKU MENONTON TAYANGAN SINETRON RELIGIUS DENGAN SIKAP REMAJA TERHADAP AGAMA ISLAM (Kasus Siswa Sekolah Menengah Umum Negeri 22, Kelurahan Utan Kayu Selatan, Kecamatan Matraman, Kotamadya Jakarta Timur, Propinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta)
  54. KESENJANGAN KEPUASAN DALAM MENONTON ACARA TELEVISI (Studi tentang Kesenjangan Kepuasan dalam Menonton Acara Silet di RCTI dan Insert Investigasi di Trans TV di Kalangan Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS)
  55. KOMUNIKASI PERSUASI IBU DAN ANAK DALAM MEMBENTUK PERILAKU BERIBADAH PADA ANAK Studi Kualitatif Dengan Pendekatan Intera ksi Simbolik Mengenai Komunikasi Persuasi Ibu dan Anak Dalam Membentuk Perilaku Beribadah Ritual Khususnya Sholat Fardhu Lima Waktu dan Aktivitas Belajar Membaca Al Quran Pada Anak
  56. KOMUNIKASI KELOMPOK DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK PADA KELAS PRE SCHOOL DI HARAPAN IBU
  57. BERITA KRIMINAL DI TELEVISI DAN KESENJANGAN KEPUASAN (Studi Deskriptif Kesenjangan Kepuasan Menonton Berita Kriminal Sergap (RCTI) dan Buser (SCTV) di Kalangan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret)
  58. FACEBOOK SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI (Study Deskriptif kualitatif Motivasi dan Persepsi Penggunaan Face Book Sebagai Media Komunikasi Jejaring Sosial Dalam Pertemanan Pada Mahasiswa Fisip UNS Non Reguler)
  59. PERSEPSI MASYARAKAT MISKIN TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN UNTUK MASYARAKAT MISKIN DI RUMAH SAKIT CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA
  60. PENGARUH PENGGUNAAN PONSEL PADA REMAJA TERHADAP INTERAKSI SOSIAL REMAJA (Kasus SMUN 68, Salemba Jakarta Pusat, DKI Jakarta)
  61. MEDIA ONLINE DAN PEMENUHAN KEBUTUHAN INFORMASI (Studi Korelasi Antara Aktivitas Mengg unakan Media Online Kompas.c om dengan Pemenuhan Kebutuhan Informasi Di Kalangan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Swadana Transfer Angkatan 2008 FISIP UNS)
  62. Fungsi dan Peran Corporate Communication dalam Meningkatkan Citra Perusahaan di PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk
  63. PERAN KOMUNIKASI ORGANISASI TERHADAP SEMANGAT KERJA KARYAWAN DI HOTEL INNA GARUDA YOGYAKARTA (Studi Hubungan Antara Peran Komunikasi Organisasi Terhadap Semangat Kerja Karyawan Di Hotel Inna Garuda Yogyakarta)
  64. PENGGUNAAN WEBSITE INTERNAL DAN KEPUASAN INFORMASI BAGI KARYAWAN KANTOR WALIKOTA JAKARTA BARAT
  65. PERAN DAN STRATEGI PUBLIC RELATIONS MELALUI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (Studi Kasus CSR BNI Syariah Pengembangan Pendidikan dengan Tema “Dari BNI Syariah Untuk Indonesia yang Lebih Cerdas”)
  66. PENGARUH EFEKTIFITAS PENYAMPAIAN INFORMASI DARI ATASAN KEPADA BAWAHAN TERHADAP MOTIVASI KERJA KARYAWAN AMIK PAKARTI LUHUR
  67. IMPLEMENTASI KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL DALAM PROSES MENGHAFAL JUZ AMMA PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI BAIT QUR’ANY CIPUTAT
  68. STRATEGI DAN PERAN PRAKTISI PUBLIC RELATIONS DALAM PARTAI POLITIK BARU (Studi Kasus Partai Nasional Demokrat Dalam Rangka Komunikasi dan Persuasi Politik Menuju Pemilu 2014)
  69. SENSASIONALISME BERITA TELEVISI MENGENAI KRIMINALITAS DENGAN PELAKU PEREMPUAN (STUDI KASUS PEMBERITAAN MELINDA DEE DI SEPUTAR INDONESIA PAGI, SIANG, SORE RCTI DAN REPORTASE PAGI, SIANG, SORE TRANS TV)
  70. RESPON IREMA (IKATAN REMAJA MASJID) NURUL IKHLAS BOGOR TERHADAP SINETRON ISLAM KTP
  71. KOMUNIKASI PEMASARAN SOSIAL SISTEM OPERASI KOMPUTER GNU/LINUX (Studi Kasus Terhadap Pengembangan Komunikasi Pemasaran Sosial Produk Perangkat Lunak Bebas dan Terbuka BlankOn Linux oleh Yayasan Penggerak Linux Indonesia)
  72. PELAKSANAAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL KEPALA SEKOLAH DENGAN GURU DI SMK MUHAMMADIYAH KARANGMOJO
  73. PENGGUNAAN MEDIA INTERNAL DAN PEMENUHAN KEBUTUHAN INFORMASI (Studi Korelasi Penggunaan Majalah Mandiri dengan Pemenuhan Kebutuhan Informasi Perusahaan di Kalangan Karyawan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Cabang Solo Sriwedari)
  74. PELAKSANAAN ORGANIZATION-PUBLIC RELATIONSHIPS YANG DILAKUKAN OLEH PUBLIC RELATIONS DALAM MENJALIN HUBUNGAN KERJA SAMA DENGAN MITRA PERUSAHAAN (Studi Kasus pada Hubungan PT Angkasa Pura II dan Maskapai Penerbangan)
  75. TANGGAPAN MAHASISWA ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS HASANUDDIN TERHADAP TABLOID IDENTITAS
  76. PENGARUH DAYA TARIK ENDORSER (SHERINA) DALAM IKLAN TERHADAP BRAND IMAGE PRODUK SIMPATI (Studi pada Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2010 Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta
  77. RESPON MAHASISWA KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA TERHADAP PROGRAM INDONESIA MENCARI BAKAT DI TRANS TV
  78. EKSPLOITASI TUBUH PEREMPUAN DALAM IKLAN (Studi Analisis Wacana Kritis Iklan Televisi AXE “Call Me” versi “Sauce”, ”Mist”, “ Special Need”, “Lost ”)
  79. ANALISIS PRODUKSI PROGRAM PEMBERITAAN DUNIA DALAM BERITA DI TELEVISI REPUBLIK INDONESIA (TVRI)
  80. PEMBINGKAIAN BERITA MEDIA ONLINE (Analisis Framing Berita Mundurnya Surya Paloh dari Partai Golkar di mediaindonesia.com dan vivanews.com)
  81. ANALISIS PROGRAM ACARA KICK ANDY di METRO TV
  82. Proses dan Dinamika Komunikasi Dalam Menghadapi Culture ShockPada Adaptasi Mahasiswa Perantauan (Kasus Adaptasi Mahasiswa Perantau di UNPAD Bandung)
  83. PENGARUH TERPAAN IKLAN TELEVISI DAN PERSEPSI MEREK TERHADAP MINAT BELI (Studi Pada Produk Blackberry Di kalangan Mahasiswa FISIP UPN Yogyakarta)
  84. POLA KOMUNIKASI GURU AGAMA DALAM PEMBINAAN AKHLAK SISWA SMK NEGERI 1 PASURUAN
  85. HUBUNGAN ANTARA MENONTON IKLAN MIE INSTAN DI TELEVISI DAN PERILAKU KONSUMSI MAHASISWA MAKASSAR
  86. ANALISIS WACANA VAN DIJK TERHADAP BERITA “SEBUAH KEGILAAN DI SIMPANG KRAFT” DI MAJALAH PANTAU
  87. REPRESENTASI AGENDA MEDIA DALAM SURAT KABAR NASIONAL (SEBUAH ANALISIS ISI ISU LINGKUNGAN DALAM KOMPAS DAN KORAN TEMPO)
  88. ANALISIS SEMIOTIK FILM 3 DOA 3 CINTA
  89. STRATEGI KOMUNIKASI PUBLIC RELATIONS RADIO GEN FM PADA MINAT PEMASANG IKLAN
  90. PROPAGANDA BARAT TERHADAP ISLAM DALAM FILM (Studi Tentang Makna Simbol dan Pesan Film "Fitna" Menggunakan Analisis Semiologi Komunikasi)
  91. ANALISIS WACANA KRITIS PENCITRAAN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO SEBAGAI POLITIKUS DALAM BUKU PAK BEYE DAN POLITIKNYA TERBITAN PT. KOMPAS MEDIA NUSANTARA
  92. PESAN MORAL TENTANG BERBUAT BAIK PADA SESAMA ( ANALISIS ISI SKENARIO SINETRON RELIGI KOMEDI SATIRE MENGINTIP SURGA DI RCTI )
  93. ANALISIS PRODUKSI SIARAN BERITA TELEVISI (Proses Produksi Siaran Program Berita Reportase Minggu Di Trans TV)
  94. POLA KOMUNIKASI ANTARPRIBADI PECINTA KLUB SEPAK BOLA AC MILAN DI KOTA MAKASSAR
  95. Strategi Corporate Public Relations Perusahaan Dalam Rangka Membina Hubungan dengan Stakeholder
  96. RESPON MAHASISWA FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UIN SYAHID JAKARTA TERHADAP RUBRIK TAJUK RENCANA REPUBLIKA
  97. Framing Opini Masyarakat tentang Polemik Jabatan Gubernur DIY dalam Koran Lokal DIY (Analisis Framing Media atas Opini Narasumber sebagai Representasi Masyarakat tentang Polemik Pengisian Jabatan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dalam SKH Kedaulatan Rakyat dan SKH Bernas Jogja)
  98. ANALISIS PENERAPAN BAHASA JURNALISTIK BERITA UTAMA SURAT KABAR EMPAT LAWANG EXPRESS EDISI DESEMBER 2010
  99. KARYA KOMUNIKASI DALAM BENTUK MEDIA CETAK “MAJALAH INFLUENCE”
  100. PEMAKNAAN KHALAYAK GOLONGAN BAWAH PENGGUNA BLACKBERRY TERHADAP BROADCAST MESSAGE (BM)
  101. PERSEPSI IKLAN POLITIK PADA PEMILIH PEMULA (Studi Deskriptif Kualitatif Persepsi Pemilih Pemula Terhadap Iklan Politik Kampanye Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Pada Pemilu 2009 di Media Televisi)
  102. KONTRUKSI GAYA HIDUP POSMO WANITA DALAM NOVEL “CINTAPUCCINO” (Studi Deskriptif Analitis dengan Data Kualitatif)
  103. REPRESENTASI NILAI FEMINISME TOKOH NYAI ONTOSOROH DALAM NOVEL BUMI MANUSIA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER (Sebuah Analisis Wacana)
  104. STRATEGI KOMUNIKASI POLITIK PAC PARTAI GERINDRA LIMO DALAM PEMILU LEGISLATIF DI DEPOK
  105. KESENJANGAN KEPUASAN PEMIRSA TELEVISI PROGRAM ACARA KOMEDI (Studi Kesenjangan Kepuasan tentang T ingkat Kesenjangan Kepuasan Pemirsa T elevisi dalam Menonton Program acara Opera Van Java Trans 7 dan Segeerrr B eneerrr ANTV di kalangan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Swadana Transfer Angkatan 2008 FISIP UNS)
  106. IMPLEMENTASI PROGRAM MARKETING PUBLIC RELATIONS DIVISI MOBILE COMMERCE PT INDOSAT TBK DALAM MEMPROMOSIKAN LAYANAN DOMPETKU (STUDI KASUS PADA EVENT GRAND LAUNCHING DOMPETKU)
  107. ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN KASUS GAYUS TAMBUNAN DI REPUBLIKA DAN MEDIA INDONESIA EDISI NOVEMBER
  108. MEDIA DAN PENYAJIAN BERITA PEMBENTUKAN KABINET (Studi Analisis Isi Penyajian Berita Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II di Surat Kabar Harian Kompas dan Republika)
  109. REPRESENTASI AGENDA MEDIA DALAM SURAT KABAR NASIONAL (SEBUAH ANALISIS ISI ISU LINGKUNGAN DALAM KOMPAS DAN KORAN TEMPO)
  110. SKRIPSI KARYA MEDIA CETAK “MAJALAH CIVITAS”
  111. TEKNIK PELIPUTAN, PENULISAN DAN PENYUNTINGAN BERITA „PERKOTAAN‟ PADA HARIAN UMUM BERITA KOTA.
  112. PEMBINGKAIAN BERITA MEDIA ONLINE (Analisis Framing Berita Mundurnya Surya Paloh dari Partai Golkar di mediaindonesia.com dan vivanews.com)
  113. MANAJEMEN KRISIS PUBLIC RELATIONS PT PERTAMINA (PERSERO) UNIT PENGOLAHAN IV CILACAP (Studi Kasus tentang Manajemen Krisis oleh Hupmas PT Pertamina (Persero) UP IV Cilacap Pasca Perolehan Predikat Hitam dalam Program Audit “PROPER”)
  114. STRATEGI MARKETING PUBLIC RELATIONS (MPR) DALAM PROSES REBRANDING (Studi Mengenai Perubahan Apartemen Menara Salemba Batavia Menjadi Menteng Square)
  115. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIFITAS PROGRAM PUBLIC AWARENESS (Studi Kasus Kampanye Flu Burung oleh Badan Karantina Pertanian di Jakarta)
  116. PEMAHAMAN JURNALIS MENGENAI KONSEP JURNALISME BENCANA (Wawancara Lima Jurnalis dari Media Cetak, Media Televisi, dan Media Online)
  117. RASISME DALAM FILM FITNA (Analisis Semiotika Rasisme di Dalam Film Fitna)
  118. PEMBINGKAIAN BERITA MEDIA TERKAIT TOKOH AGAMA DI INDONESIA (ANALISIS FRAMING MEDIA KASUS PELECEHAN SEKSUAL TERKAIT TOKOH AGAMA ; HABIB HASAN ASSEGAF DI GATRA ONLINE DAN REPUBLIKA ONLINE)
  119. PERSEPSI REMAJA TENTANG ASPEK PORNOGRAFI PADA FILM-FILM LAYAR LEBAR BERTEMA KOMEDI SEKS (Studi Deskriptif Kuantitatif Tentang Persepsi Terhadap Aspek Pornografi Pada Film-Film Layar Lebar Bertema Komedi Seks Periode November 2007 – April 2008 di Kalangan Siswa Kelas X dan XI SMA Negeri 4 Surakarta).
  120. AKTIVITAS HUMAS BPKP PROVINSI SULAWESI SELATAN SEBAGAI FUNGSI MEDIATOR DAN PUBLISITAS DALAM MEWUJUDKAN VISI BPKP
  121. ANALISIS WACANA KRITIS PIDATO POLITIK ANIES RASYID BASWEDAN DENGAN JUDUL ‘INDONESIA KITA SEMUA’ DALAM KONVENSI PEMILIHAN CALON PRESIDEN 2014 PARTAI DEMOKRAT
  122. ANALISIS WACANA FEATURE HUMAN INTEREST PADA KORAN HARIAN UMUM RADAR BANTEN
  123. STRATEGI MANAJEMEN HUMAS PT. PLN (Persero) DALAM MELAKSANAKAN CSR

Pada kesempatan ini, saya akan membagikan contoh gambar wallpaper keren yang dapat Anda gunakan untuk tampilan ponsel Anda atau untuk tampilan laptop favorit Anda.


Siapa yang akan senang melihat ponsel yang bagus dan indah, pasti banyak orang ingin memiliki wallpaper yang sangat keren dan keren.

Dengan menggunakan wallpaper keren bisa mempercantik tampilan ponsel atau laptop Anda. Pemilihan wallpaper yang tepat juga akan membuat ponsel Anda terlihat bagus.

Dengan kecanggihan yang ditawarkan oleh Android, sangat memungkinkan bagi pengguna untuk mengubah tampilan ponsel mereka termasuk wallpaper.

Sebelum Anda mengunduh wallpaper, akan lebih baik jika Anda menentukan tema ponsel Anda terlebih dahulu. Biasanya, ponsel standar sudah menyediakan beberapa tema untuk Anda pilih. Tetapi jika Anda masih tidak puas dengan tema yang ada, Anda dapat mengunduh tema yang Anda inginkan.

Hal pertama yang harus Anda lakukan ketika mencari wallpaper keren untuk ponsel Anda adalah mencari gambar resolusi tinggi.

Dengan resolusi tinggi, ketajaman gambar akan membuat smartphone Anda lebih enak dipandang. Selain itu, dengan resolusi tinggi Anda juga dapat mengedit beberapa gambar yang Anda unduh agar lebih sesuai dengan ponsel cerdas Anda.

Berikut Daftar Kumpulan Wallpaper PUBG












Nah demikian kumpulan wallpaper PUBG yang siap membuat layar ponsel anda semakin keren.





Dalam acara Talk Show yang di Atrium-Palembang Indah Mall pada Hari minggu 24 maret 2019 kemarin di hadiri oleh komunitas Palvidgram dan beberapa komunitas film pendek di kota palembamg, serta dari kalangan mahasiswa dan anak muda milenial.

Dengan bintang tamu seorang youtube kondang Gofar Hilman seorang creativepreneur dan Elyas Dian Thamrin direktur utama Thamrin Group.

Beberapa anak muda terut semangat mengikuti acara tersebut,salah satu alasan mereka datang karena kehadiran Gofar Hilman. Gofar Hilman lahir di Jakarta, 26 April 1983; umur 35 tahun merupakan seorang konten creator, aktor, MC, penyiar radio dan komedian berkebangsaan Indonesia. 
Gofar Hilman semakin dikenal dan namanya melambung karena channel youtube-nya (https://www.youtube.com/channel/UCxLyVB3oV_aOLIouyfW7HUQ).


Acara berlangsung selama dua jam tiga puluh menit tersebut sangat meriah, dalam beberapa kesempatan pembawa acara sempat bertanya kepada peserta dan memberikan doorprize bagi mereka yang berhasil menjawab pertanyaan yang di ajukan.

Beberapa materi yang diangkat adalah mengenai berkembangan otomotif di tanah air, berkumembangan dunia teknologi dan informasi sebagai ladang baru dan creativepreneur yang di gandrongi di era milenials.

Talk Show sersebut juga sebagai instrumentasi dari Thamrin Group lebih khususnya SUZUKI untuk mengenalkan produk terbaru mereka yaitu ALL NEW ERTIGA.


Dikemas dengan santai dan akrab TALKSHOW : Creativepreneur Millenials Bersam ALL NEW ERTIGA juga menjadi ajang jejaring bagi para kreativepreneur muda yang ingin berkembang. Anak muda dapat menjadi sosok yang penuh perhatian dan inovatif dalam memanfaatkan hal-hal di sekelilingnya karena mereka memiliki kreativitas tanpa batas. 

Hasil gambar untuk millennial safety road show

Guna meningkatkan kesadaran keselamatan berkendara bagi anak muda millennial, Korps Lalu Lintas Polri, pada 10 Maret mendatang oleh Direktorat Lalu Lintas Polda Sumsel, di Kota Palembang.

Anak muda generasi milenial menjadi sasaran acara tersebut, dengan mengusung berbagai acara yang bertemakan milenial.

Di hadiri langsung oleh Presiden RI Jokowidodo dan Ibu Iriana beserta rombongan tiba di Jembatan Ampera sekira pukul 08.18 WIB.

Kedatangan Presiden juga disambut tarian Gending Sriwijaya dan tari Saman.

Tak hanya itu, parade 200 perahu komunitas Sungai Musi juga turut memeriahkan acara ini.
Pada acara yang mengusung tema "Mewujudkan Milenial Cinta Lalu Lintas Menuju Indonesia Gemilang" tersebut, dideklarasikan pelopor keselamatan bersama.
Millenial Road Safety Festival di Palembang Akan Dihadiri Presiden Jokowi
Direktur Lalu-Lintas Polda Sumsel menambahkan, bahwa program nasional untuk menurunkan kasus kecelakaan lalu-lintas telah berjalan beberapa tahun terakhir, dengan dekade aksi keselamatan Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) belum membuahkan hasil sesuai dengan harapan.

Dan sampai saat ini, festival keselamatan berkendara kaum millennial tadi mendapat sambutan luar biasa dari kalangan muda di wilayah Sumatera Selatan, karena target peserta yang ditetapkan 100 ribu orang, realisasinya melampaui target, yaitu mencapai 114 ribu orang.

Harnojoyo berharap, agar kegiatan ini tidak hanya menjadi acara seremonial tapi bisa dimaknai tentang pentingnya menjaga serta mentaati peraturan lalulintas. "Mudah-mudahan semua pesan bisa tersampaikan dengan baik dan mengurangi angka kecelakaan," harapnya.

Dosen dan Kepala Jurusn  Ilmu Komunikasi STISIPOL Candradimuka Palembang, Penulis Buku "Pempek Palembang"dan seorang blogger sekaligus aktivis budaya terukhusus tempat wista daerah sumatera selatan dan Indonesia.

Selama Ulang Tahun Dosen ku
Sumarni Bayu Anita, S.Sos, M.A
(sumber : http://zamrotinrury.blogspot.com/2019/03/kado-sederhana-dihari-ulang-tahun-ibu.html)

Semoga ilmu yang beliau titipkan bermanfaat dan menjadi amal bagi beliau.

Menjadi kebanggaan tersendiri bisa dibimbing dan diajarkan oleh seorang yang cerdas dan penuh dengan ilmu pengetahuan dan karena tugas dari beliau akhirnya saya membuat blog sederhana ini dan mungkin kedepannya akan berbagi ilmu yang saya dapat dan ketahui di blog ini.

Sekali lagi Selamat Ulang Tahun Dosen Ku dan Terima Kasih Dosen ku
Biarkan ucapan terbaiku adalah doa yang kupanjatkan.Aamiin 
Pada 8 Februari 2019, Surat Keputusan (SK) Pendirian Prodi Ilmu Komunikasi STISIPOL Candradimuka Palembang ditandatangani oleh LLDIKTI. Setelah Dr. Hj. Lishapsari Prihatini, M.Si (Ketua STISIPOL Candradimuka Palembang)butuh waktu 3 tahun untuk memperjuangkan Prodi baru tersebut.

Stisipol Candradimuka Buka Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi
Foto(Yanti): Jumpa pers pembukaan program pasca Sarjana ilmu komunikasi (http://www.lenterapendidikan.com)

Lebih lanjut Lishapsari menuturkan, Stisipol Candradimuka Palembang memiliki dua konsentrasi program studi, diantaranya Komunikasi Politik dan Corporate & Marketing Communication.

Sementara itu, menurut Ketua Prodi Magister Ilmu Komunikasi Stisipol Candradimuka Palembang, Budi Santoso, M.Com menambahkan bahwa keunggulan dari program studi S2 Ilmu Komunikasi ini terletak pada konsentrasi program studi, dan biaya khusus baik yang membayar secara lunas maupun memakai sistem angsuran.

Usai menerima SK, Lishapsari menyampaikan bahwa SK Izin pembukaan S2 Ilmu Komunikasi Stisipol Candramuka dengan nomor 70/KPT/I/2018 yang dikeluarkan  langsung oleh Menristekdikti sejak 8 Februari 2019 yang lalu.Usai menerima SK, Lishapsari menyampaikan bahwa SK Izin pembukaan S2 Ilmu Komunikasi Stisipol Candramuka dengan nomor 70/KPT/I/2018 yang dikeluarkan  langsung oleh Menristekdikti sejak 8 Februari 2019 yang lalu.

“Dengan penyerahan simbolis ini pembukaan magister S2 Ilmu Komunikasi, Stisipol Candramuka bisa semakin memberikan kepercayaan kepada masyarakat maupun secara institusi,” katanya.
Gambar terkaitPenelitian agenda setting adalah dimensi kritis dalam penciptaan pengetahuan karena ini merupakan titik awal dari suatu proses yang menanamkan minat para peneliti (dan komunitas tempat mereka mengidentifikauransi) dengan individu untuk menjelaskan tentang faktor topikal yang tidak diketahui, faktor intrinsik dan ekstrinsik yang mendasari bahwa motivasi, dan ambisi dan ruang lingkup apa yang dapat dibawa oleh upaya penelitian. Artikel ini bertujuan untuk lebih memahami agenda setting penelitian individu di bidang pendidikan tinggi. Ini dilakukan melalui kerangka kerja yang baru dikembangkan pada agenda setting penelitian yang menggunakan analisis cluster dan pemodelan linier. Temuan mengidentifikasi dua kelompok utama yang menentukan agenda setting penelitian individu — kohesif dan trailblazing — masing-masing dengan serangkaian karakteristik penentu yang berbeda. Analisis lebih lanjut dengan validasi silang melalui sub-sampling menunjukkan bahwa kluster ini konsisten untuk peneliti baru dan mapan, dan untuk kontributor paruh waktu dan “paruh waktu” di bidang pendidikan tinggi. Implikasi untuk bidang penelitian pendidikan tinggi dibahas, termasuk relevansi yang dimiliki oleh masing-masing kelompok agenda penelitian untuk kemajuan pengetahuan di lapangan. Teori pengaturan agenda menggambarkan "kemampuan (media berita) untuk memengaruhi pentingnya topik-topik agenda publik".  Dengan agenda setting menjadi teori ilmu sosial, ia juga berupaya membuat prediksi. Artinya, jika item berita diliput secara sering dan mencolok, audiens akan menganggap masalah ini lebih penting. Teori  agenda setting secara resmi dikembangkan oleh Max McCombs dan Donald Shaw dalam sebuah studi tentang pemilihan presiden Amerika 1968. Dalam "studi Chapel Hill" 1968, McCombs dan Shaw menunjukkan koefisien korelasi yang kuat (r> 0,9) antara apa yang menurut 100 penduduk Chapel Hill, North Carolina adalah masalah pemilihan yang paling penting dan apa yang dilaporkan oleh media berita lokal dan nasional adalah masalah yang paling penting.  Dengan membandingkan arti-penting isu-isu dalam konten berita dengan persepsi publik tentang isu pemilu yang paling penting, McCombs dan Shaw dapat menentukan sejauh mana media menentukan opini publik. Sejak studi tahun 1968, yang diterbitkan dalam Public Opinion Quarterly edisi 1972, lebih dari 400 studi telah diterbitkan tentang fungsi agenda setting media massa, dan teorinya terus dianggap relevan. Penelitian telah menunjukkan bahwa apa yang media memutuskan untuk mengekspos di negara-negara tertentu berkorelasi dengan pandangan mereka tentang hal-hal seperti politik, ekonomi dan budaya. Negara-negara yang cenderung memiliki lebih banyak kekuatan politik lebih cenderung menerima paparan media. Sumber daya keuangan, teknologi, perdagangan luar negeri dan uang yang dihabiskan untuk militer dapat menjadi beberapa faktor utama yang menjelaskan ketidaksetaraan cakupan.
Hasil gambar untuk agenda setting research
Pengaturan agenda dapat ditelusuri ke bab pertama buku Walter Lippmann 1922, Opini Publik. Dalam bab itu, "Dunia Di Luar Dan Gambar Di Kepala Kita", Lippmann berpendapat bahwa media massa adalah hubungan utama antara peristiwa di dunia dan gambar di benak publik. Tanpa menggunakan istilah "agenda setting", Walter Lippmann menulis tentang apa yang kita sebut hari ini " agenda setting". Mengikuti Lippmann, pada tahun 1963, Bernard Cohen mengamati bahwa pers "mungkin tidak banyak berhasil dalam memberi tahu orang-orang apa yang harus dipikirkan, tetapi sangat mengagumkan dalam memberi tahu para pembacanya apa yang harus dipikirkan. Dunia akan terlihat berbeda dengan orang-orang yang berbeda. , "Cohen melanjutkan," tergantung pada peta yang dibuat untuk mereka oleh penulis, editor, dan penerbit kertas yang mereka baca. "Pada awal 1960-an, Cohen telah mengungkapkan gagasan yang kemudian mengarah pada formalisasi agenda. teori agenda setting oleh McCombs dan Shaw. Kisah-kisah dengan pengaruh agenda setting terkuat cenderung adalah kisah-kisah yang melibatkan konflik, terorisme, kejahatan dan masalah narkoba di Amerika Serikat. Mereka yang tidak memasukkan atau melibatkan Amerika Serikat dan politik bergaul secara negatif dengan opini publik. Pada gilirannya, ada sedikit kekhawatiran. Meskipun Maxwell McCombs sudah memiliki minat di bidang ini, ia terpapar dengan karya Cohen saat melayani sebagai anggota fakultas di UCLA, dan itu adalah karya Cohen yang sangat memengaruhinya, dan kemudian Donald Shaw. Konsep  agenda setting diluncurkan oleh McCombs dan Shaw selama pemilihan presiden 1968 di Chapel Hill, North Carolina. Mereka memeriksa gagasan Lippmann tentang konstruksi gambar-gambar di kepala kita dengan membandingkan isu-isu dalam agenda media dengan masalah-masalah utama dalam agenda pemilih yang belum memutuskan keputusan. Mereka menemukan bukti agenda dengan mengidentifikasi bahwa arti-penting agenda berita sangat berkorelasi dengan agenda pemilih. McCombs dan Shaw adalah yang pertama memberikan bidang komunikasi dengan bukti empiris yang menunjukkan kekuatan media massa dan pengaruhnya pada agenda setting publik. Bukti empiris juga membuat teori ini memiliki kredibilitas di antara teori-teori ilmiah sosial lainnya.

Seorang sarjana yang relatif tidak dikenal bernama G. Ray Funkhouser melakukan penelitian yang sangat mirip dengan McCombs dan Shaw di sekitar waktu yang sama para penulis meresmikan teori tersebut.  Ketiga cendekiawan - McCombs, Shaw, dan Funkhouser - bahkan mempresentasikan temuan mereka pada konferensi akademik yang sama. Artikel Funkhouser diterbitkan lebih lambat dari McCombs dan Shaw, dan Funkhouser tidak menerima penghargaan sebanyak McCombs dan Shaw karena menemukan  agenda setting Menurut Everett Rogers, ada dua alasan utama untuk ini.  Pertama, Funkhouser tidak secara resmi menyebutkan nama teorinya. Kedua, Funkhouser tidak mengejar penelitiannya jauh melewati artikel awal. Rogers juga menyarankan bahwa Funkhouser secara geografis terisolasi di Stanford, terpisah dari peneliti yang tertarik, sedangkan McCombs dan Shaw telah membuat orang lain tertarik pada penelitian agenda setting.